TPMA Bentuk Kerja Sama Baru, Potensi Tambahan Laba Bersih hingga 15%
Trans Power Marine (TPMA) baru saja mengumumkan kerja sama dengan PT Samudra Investama Maju. Kerja sama ini bertujuan untuk mendirikan joint venture bernama PT Trans Ocean Permata (TOP) yang akan fokus pada bidang jasa pelayaran transportasi dan logistik batu bara di wilayah Sumatera Selatan.
Dalam langkah strategis ini, TPMA menjelaskan bahwa TOP memiliki modal awal sebesar 20 miliar rupiah, di mana kepemilikan perseroan mencapai 51%.
Rencana Ekspansi Kapal yang Ambisius
Dalam waktu 2 hingga 3 tahun ke depan, TOP berencana mengakuisisi 20 set kapal tunda dan tongkang serta 2 unit floating crane dengan total capex sebesar 90 juta dolar AS. Rencana ekspansi ini akan didanai 20% dari kas internal, sementara sisanya akan diperoleh melalui utang bank.
Tentu saja, ini bukan kali pertama TPMA melakukan ekspansi melalui joint venture. Sebelumnya, perusahaan ini telah membentuk joint venture bernama PT Trans Logistik Perkasa (TLP) bersama T&J Industrial Holding Limited dan Pacific Pelayaran Indonesia.
TLP sendiri ditujukan untuk mengangkut hasil nikel dari Tsingshan di Maluku. Saat ini, perusahaan tersebut telah memiliki 41 set kapal tunda dan tongkang per 1H24, dan ditargetkan mencapai 60 set kapal pada tahun 2025.
Pembentukan Joint Venture sebagai Katalis Pertumbuhan
Pembentukan joint venture ini berpotensi menjadi katalis pertumbuhan bagi kinerja keuangan TPMA ke depannya. Berdasarkan estimasi konservatif, TOP berpotensi membukukan pendapatan sebesar 4,9–10,9 juta dolar AS pada tahun pertama beroperasi, setara dengan 5,4–12,1% dari estimasi FY24F terhadap pendapatan TPMA setelah konsolidasi dengan PT Bahtera Energi Samudra Tuah (BEST).
Kami juga mengestimasikan bahwa laba bersih TOP pada tahun pertama beroperasi bisa mencapai 752,6 ribu–1,7 juta dolar AS, yang setara dengan 2,7–6% dari perkiraan FY24F untuk laba bersih TPMA.
Asumsi yang Digunakan dalam Perhitungan
- Pemenuhan 20 set kapal tunda dan tongkang serta 2 kapal floating crane diharapkan selesai dalam 3 tahun.
- Asumsi pendapatan per armada sebesar 1,1 miliar rupiah per bulan untuk kapal tunda dan tongkang, mengacu pada TLP yang merupakan pendapatan per armada terendah dibandingkan TPMA dan BEST.
- Asumsi pendapatan per armada sebesar 7 miliar rupiah per bulan untuk kapal floating crane, setara dengan pendapatan per armada dari TPMA.
- Asumsi margin laba bersih yang digunakan adalah 30%, dengan pengurangan kepentingan non-pengendali sebesar 49%.
Jika TOP berhasil menyelesaikan seluruh akuisisi armadanya, kami mengestimasikan pendapatan dan laba bersih TPMA akan meningkat masing-masing sebesar 26,8 juta dolar AS dan 4,1 juta dolar AS, yang setara dengan 29,5% dan 14,7% dari estimasi pendapatan dan laba bersih FY24F kami untuk TPMA.
Kesimpulan
Dengan langkah ekspansi ini, TPMA tidak hanya menunjukkan ambisi yang besar di sektor logistik dan transportasi batu bara, tetapi juga berpotensi memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Jika semua rencana terlaksana dengan baik, kita dapat berharap melihat pertumbuhan yang menjanjikan dalam waktu dekat.

