Analisis Kinerja Keuangan UNTD (PT Terang Dunia Internusa) pada Q1 2024: Tantangan dan Prospek Masa Depan
Industri transportasi dan logistik Indonesia mengalami perubahan besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir, terutama dengan meningkatnya permintaan untuk kendaraan listrik (EV). Namun, tidak semua perusahaan mampu beradaptasi dengan cepat. PT Terang Dunia Internusa (UNTD), yang bergerak di bidang ini, melaporkan hasil keuangan Q1 2024 yang mengecewakan. Artikel ini akan membahas kinerja UNTD, tantangan yang mereka hadapi, serta prospek masa depan di tengah berkembangnya tren kendaraan listrik.
Kinerja Keuangan Q1 2024: Penurunan Signifikan
Pendapatan Operasional, Biaya, dan Laba Kotor
Pada Q1 2024, UNTD mencatatkan pendapatan operasional sebesar IDR105,1 miliar, turun drastis sebesar 55,4% year-on-year (YoY) dari IDR235,4 miliar pada Q1 2023. Penurunan ini disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat serta menurunnya popularitas sepeda pasca pandemi. Pendapatan terbesar UNTD berasal dari penjualan sepeda motor listrik, yang hanya mencapai IDR42,4 miliar (turun 67,0% YoY), diikuti oleh sepeda listrik sebesar IDR30,9 miliar (turun 40,2% YoY) dan penjualan sepeda yang turun menjadi IDR30,2 miliar (turun 41,4% YoY). Bahkan, penjualan suku cadang hanya mencapai IDR1,61 miliar (turun 44,5% YoY).
Meski biaya pendapatan turun dari IDR175,7 miliar pada Q1 2023 menjadi IDR77,7 miliar pada Q1 2024, laba kotor UNTD tetap menurun menjadi IDR27,4 miliar, turun 54,0% YoY. Ini menunjukkan bahwa penurunan pendapatan yang lebih besar tidak dapat diimbangi oleh pengurangan biaya yang terjadi.
Beban Operasional yang Meningkat
Pada Q1 2024, beban operasional UNTD meningkat menjadi IDR12,3 miliar, naik 12,8% YoY. Beban penjualan dan pemasaran (S&M) meningkat dari IDR3,6 miliar menjadi IDR4,2 miliar (naik 15,5% YoY), sedangkan beban umum dan administrasi meningkat menjadi IDR8,1 miliar (naik 12,4% YoY). Peningkatan dalam beban S&M terutama disebabkan oleh kenaikan biaya promosi dan pemasaran sebesar IDR1,77 miliar (naik 32,5% YoY), serta kenaikan gaji dan tunjangan menjadi IDR1,69 miliar (naik 39,9% YoY).
Laba Operasional, Laba Sebelum Pajak, dan Laba Bersih
Penurunan pendapatan UNTD berdampak langsung pada laba operasional yang turun drastis dari IDR48,7 miliar pada Q1 2023 menjadi hanya IDR15,6 miliar pada Q1 2024, turun 68,0% YoY. Laba sebelum pajak pun mengalami penurunan signifikan dari IDR39,7 miliar pada Q1 2023 menjadi hanya IDR4,01 miliar pada Q1 2024, turun 90,0% YoY. Peningkatan biaya pembiayaan, yang naik dari IDR9,02 miliar menjadi IDR12,0 miliar (naik 33,1% YoY), terutama disebabkan oleh peningkatan utang bank dari IDR8,89 miliar menjadi IDR11,7 miliar pada Q1 2024. Alhasil, laba bersih UNTD turun drastis menjadi hanya IDR3,16 miliar pada Q1 2024, turun 90,0% YoY.
Posisi Neraca Keuangan: Peningkatan Aset dan Liabilitas
UNTD mencatatkan peningkatan aset lancar dari IDR787 miliar pada FY23 menjadi IDR1,11 triliun pada Q1 2024. Mayoritas peningkatan ini berasal dari peningkatan kas dan setara kas, yang melonjak dari IDR245 juta pada FY23 menjadi IDR323 miliar pada Q1 2024, yang disebabkan oleh pinjaman bank dan hasil dari IPO. Aset tidak lancar juga meningkat dari IDR137,9 miliar pada FY23 menjadi IDR153,4 miliar pada Q1 2024, terutama karena adanya uang muka untuk perolehan aset tetap dan klaim pengembalian pajak penghasilan.
Di sisi lain, liabilitas lancar UNTD berhasil dikurangi dari IDR644,8 miliar pada FY23 menjadi IDR519,7 miliar pada Q1 2024, terutama karena penurunan pinjaman bank menjadi IDR421,1 miliar, utang usaha yang lebih rendah, serta penurunan uang muka dari pelanggan. Namun, liabilitas tidak lancar meningkat dari IDR55,0 miliar pada FY23 menjadi IDR129,6 miliar pada Q1 2024, terutama disebabkan oleh peningkatan utang jangka panjang dari pinjaman bank.
Total liabilitas UNTD secara keseluruhan menurun dari IDR703,3 miliar pada FY23 menjadi IDR649,4 miliar pada Q1 2024, sementara total ekuitas meningkat signifikan menjadi IDR609,6 miliar, terutama didorong oleh hasil dari IPO yang menambah modal disetor sekitar IDR342,9 miliar.
Prospek Investasi: Apakah Pemerintah Dapat Menjadi Katalis?
Dalam upaya mendukung pertumbuhan kendaraan listrik, pemerintah Indonesia telah mengalokasikan USD455 juta untuk subsidi sepeda motor listrik, dengan target untuk mensubsidi 800.000 sepeda motor listrik baru dan konversi 200.000 sepeda motor berbahan bakar fosil. Program ini memberikan diskon IDR7 juta per sepeda motor listrik dan diharapkan dapat meningkatkan penjualan kendaraan listrik, yang masih rendah dibandingkan dengan sepeda motor konvensional.
Di India, yang merupakan pasar kendaraan listrik roda dua terbesar, subsidi pemerintah telah berhasil meningkatkan adopsi kendaraan listrik. Mengambil contoh dari India, dengan kebijakan yang tepat dan dukungan infrastruktur, Indonesia juga berpotensi melihat lonjakan permintaan sepeda motor listrik dalam beberapa tahun ke depan.
Kesimpulan: Masa Depan UNTD di Tengah Tren Elektrifikasi
Meski kinerja UNTD pada Q1 2024 mengecewakan, prospek jangka panjang perusahaan ini tetap menarik, terutama dengan dukungan pemerintah terhadap kendaraan listrik. Namun, tantangan seperti daya saing, biaya operasional yang tinggi, serta penurunan pendapatan harus segera diatasi untuk mempertahankan posisi di pasar.
Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya transisi ke mobilitas berkelanjutan, UNTD memiliki peluang untuk mendapatkan manfaat dari peningkatan permintaan kendaraan listrik. Namun, untuk dapat bersaing, UNTD perlu melakukan inovasi dan penyesuaian strategis yang lebih agresif.
Sumber analisis 1

